<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
	<channel>
		<title>https://bki.iainsasbabel.ac.id/</title>
		<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/feed</link>
		<language>id-ID</language>
		<description>Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN SAS Babel</description>
		<dc:language>id-ID</dc:language>
		<dc:creator>fsei@iainsasbabel.ac.id</dc:creator>
		<image>
			<url>https://bki.iainsasbabel.ac.id/assets/images/logo/825764b050a6d3c5f4d4db89449e435e.png</url>
			<title>Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN SAS Babel</title>
			<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/</link>
		</image>

		<dc:rights>Copyright 2026</dc:rights>
		<admin:generatorAgent rdf:resource="https://bki.iainsasbabel.ac.id/" />

		
			<item>
				<title>Gelar Webinar Kolaborasi Nasional "BK GOES DIGITAL", Prodi BKI IAIN SAS Babel dan IAIN Parepare Dorong Transformasi Layanan Konseling Kekinian</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/gelar-webinar-kolaborasi-nasional-bk-goes-digital-prodi-bki-iain-sas-babel-dan-iain-parepare-dorong-transformasi-layanan-konseling-kekinian</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/gelar-webinar-kolaborasi-nasional-bk-goes-digital-prodi-bki-iain-sas-babel-dan-iain-parepare-dorong-transformasi-layanan-konseling-kekinian</guid>
				<pubDate>Tue, 21 Jul 2026 02:24:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p>BKI IAIN SAS Babel, BANGKA — Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung bekerja sama dengan Prodi BKI IAIN Parepare sukses menyelenggarakan Webinar Kolaborasi Nasional bertajuk "BK GOES DIGITAL: Strategi Pengembangan Media Bimbingan Konseling Kekinian" pada Selasa (21/7/2026) melalui platform virtual Zoom Meeting. Kegiatan kolaboratif lintas pulau ini menghadirkan dua akademisi dan praktisi konseling Islam, yakni M. Sholeh Marsudi, M.A. (Dosen Prodi BKI IAIN SAS Bangka Belitung) yang mengupas topik “Media BK Melalui Media Sosial”, serta Dr. Adnan Achiruddin Saleh, M.Si (Dosen Prodi BKI IAIN Parepare) yang memaparkan topik “Media BK Melalui Aplikasi”. Webinar ini disambut antusias oleh puluhan peserta dari kalangan dosen, praktisi, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.</p><p>Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FDKI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Dalam sambutannya, Dekan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Prodi BKI dan panitia atas terselenggaranya webinar nasional yang sangat relevan ini, sembari menekankan bahwa transformasi digital merupakan keniscayaan yang menuntut para konselor untuk adaptif, inovatif, dan responsif. Beliau menggarisbawahi bahwa meski cyber counseling membuka peluang besar dalam memperluas jangkauan layanan tanpa batas ruang dan waktu—khususnya bagi generasi muda—praktik konseling digital tetap menghadirkan tantangan tersendiri seperti kerahasiaan data (confidentiality) dan keterbatasan kontak emosional secara langsung, sehingga keterikatan pada etika profesi serta nilai-nilai keislaman harus selalu dijaga demi mencetak calon konselor yang unggul, profesional, dan berintegritas di era modern.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1001094167.jpg"></figure><p>Ketua Program Studi BKI IAIN SAS Bangka Belitung, Pebri Yanasari, M.A., menyambut baik terlaksananya agenda kolaborasi nasional ini. Beliau menegaskan pentingnya membangun kemitraan yang berkelanjutan antarinstitusi dalam rangka memajukan mutu akademik serta responsivitas keilmuan Bimbingan dan Konseling Islam. "Semoga selalu dapat bersinergi," ujar Pebri Yanasari singkat namun sarat makna, menegaskan komitmen Prodi BKI IAIN SAS Babel untuk terus membuka ruang kerja sama strategis dengan berbagai kampus di Indonesia.</p><p>Sesi pemaparan materi diawali oleh M. Sholeh Marsudi, M.A. yang menyoroti pergeseran perilaku generasi digital native dalam mencari bantuan psikologis dan spiritual. Ia menekankan bahwa media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan WhatsApp harus dimanfaatkan secara aktif sebagai sarana psikoedukasi, pencegahan dini (early prevention), dan penyebaran nilai-nilai bimbingan Islam dengan pendekatan hikmah, mau'izhah hasanah, dan adab keislaman. Sesi kedua dilanjutkan oleh Dr. Adnan Achiruddin Saleh, M.Si yang membedah efisiensi penggunaan media berbasis aplikasi dan kecerdasan buatan (AI). Ia menjelaskan bagaimana platform aplikasi dapat mengoptimalkan pemetaan asesmen, analisis kebutuhan konseli, hingga manajemen dokumentasi layanan secara terintegrasi dan profesional.</p><p>Melalui kegiatan ini, Prodi BKI IAIN SAS Bangka Belitung menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak lulusan yang menguasai teori-teori konseling konvensional, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi digital tanpa mencabut akar nilai-nilai etika dan keislaman. Rangkaian acara diakhiri dengan sesi diskusi interaktif, penarikan kesimpulan oleh moderator, serta sesi foto bersama secara virtual.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1001094223.jpg"></figure>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Perkuat Sinergi Bersama HIMA, Siapkan Program Inovatif untuk Pengembangan Mahasiswa</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/program-studi-bimbingan-dan-konseling-islam-perkuat-sinergi-bersama-hima-siapkan-program-inovatif-untuk-pengembangan-mahasiswa</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/program-studi-bimbingan-dan-konseling-islam-perkuat-sinergi-bersama-hima-siapkan-program-inovatif-untuk-pengembangan-mahasiswa</guid>
				<pubDate>Mon, 06 Jul 2026 04:42:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p>Bangka, 6 Juli 2026 — Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi memulai langkah strategis dalam memperkuat tata kelola organisasi kemahasiswaan melalui rapat koordinasi perdana bersama Himpunan Mahasiswa (HIMA) Program Studi BKI. Pertemuan yang berlangsung pada Senin (6/7) di Ruang Rapat Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut menjadi momentum awal membangun kolaborasi yang lebih erat antara unsur akademik dan organisasi mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan kompetensi mahasiswa, serta penguatan budaya akademik di lingkungan Program Studi BKI.</p><p>Rapat koordinasi ini dihadiri oleh Ketua Program Studi BKI, Sekretaris Program Studi, pengurus HIMA BKI, serta perwakilan mahasiswa dari berbagai angkatan. Selain menjadi forum silaturahmi, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk menyelaraskan visi, menyusun arah program kerja, serta merumuskan bentuk kolaborasi yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa sekaligus mendukung pencapaian target pengembangan program studi. Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Pebri Yanasari, M.A., menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan mitra strategis program studi dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja diantaranya sebagai penyuluh agama dan asisten konselor.</p><p>"Keberadaan HIMA bukan sekadar pelaksana kegiatan mahasiswa, tetapi merupakan mitra strategis program studi dalam menciptakan ekosistem akademik yang aktif, inovatif, dan kolaboratif. Kami berharap setiap program yang dijalankan mampu menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi profesional sebagai calon konselor sekaligus membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas," ujar Pebri.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1001071092.jpg"></figure><p>Ia menjelaskan bahwa sinergi tersebut akan diwujudkan melalui penguatan lima divisi utama yang berada di bawah naungan HIMA Program Studi BKI, yaitu Bidang Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM), Penalaran Keilmuan Konseling (PKK), Agama Sosial (AS), Kewirausahaan, serta Informasi dan Komunikasi (IFKOM). Masing-masing divisi diharapkan mampu menghadirkan program-program yang adaptif terhadap perkembangan zaman, kebutuhan mahasiswa, serta dinamika masyarakat.</p><p>Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum HIMA Program Studi BKI, Egan Rahmadani, menyampaikan komitmen pengurus HIMA untuk menjadikan organisasi sebagai ruang aktualisasi yang produktif dan bermanfaat bagi seluruh mahasiswa. "Kami ingin HIMA menjadi wadah yang mampu mengakomodasi potensi, kreativitas, dan aspirasi mahasiswa. Melalui kerja sama yang baik dengan program studi, kami optimistis setiap divisi dapat melaksanakan program kerja secara maksimal sehingga memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas mahasiswa BKI," ungkapnya.</p><p>Sementara itu, Sekretaris Program Studi BKI, Muhammad Sholeh Marsudi, menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital sebagai bagian dari strategi pengembangan program studi. Menurutnya, kolaborasi antara program studi dan HIMA perlu diperluas melalui optimalisasi media sosial sebagai sarana promosi, publikasi, serta penyebaran informasi akademik kepada masyarakat.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1001070872.jpg"></figure><p>"Mahasiswa merupakan duta terbaik program studi. Melalui kreativitas yang dimiliki, HIMA dapat menjadi mitra dalam membangun citra positif Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam melalui berbagai konten edukatif, dokumentasi kegiatan, serta publikasi prestasi mahasiswa di media digital," jelasnya. Selain membahas strategi pengembangan organisasi, rapat koordinasi juga menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, salah satunya keberlanjutan program Ngaji Konseling sebagai agenda rutin bulanan. Program ini dirancang sebagai ruang diskusi ilmiah yang mengintegrasikan kajian keislaman dengan teori dan praktik bimbingan serta konseling. Melalui forum tersebut, mahasiswa diharapkan mampu memperkuat wawasan akademik, memperdalam nilai-nilai spiritual, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam merespons berbagai persoalan sosial dan psikologis yang berkembang di masyarakat.</p><p>Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam memandang bahwa pembinaan mahasiswa tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, literasi digital, serta kepedulian sosial. Oleh karena itu, sinergi antara program studi dan HIMA diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi kegiatan yang mendukung implementasi tridarma perguruan tinggi sekaligus memperkuat profil lulusan yang profesional, humanis, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.</p><p>Melalui rapat koordinasi perdana ini, Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam menegaskan komitmennya untuk terus membangun budaya kolaborasi antara dosen dan mahasiswa sebagai fondasi dalam menciptakan lingkungan akademik yang dinamis, partisipatif, dan berdaya saing. Ke depan, berbagai program bersama akan terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu layanan akademik, memperluas jejaring kemitraan, serta memperkuat eksistensi Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam sebagai pusat pengembangan keilmuan bimbingan dan konseling yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Harganas dan Reaktualisasi Fungsi Keluarga Islami dalam Menghadapi Krisis Sosial</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/harganas-dan-reaktualisasi-fungsi-keluarga-islami-dalam-menghadapi-krisis-sosial</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/harganas-dan-reaktualisasi-fungsi-keluarga-islami-dalam-menghadapi-krisis-sosial</guid>
				<pubDate>Mon, 29 Jun 2026 01:46:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p>Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang kita peringati setiap tanggal 29 Juni selalu menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali sejauh mana institusi terkecil dalam masyarakat ini mampu bertahan di tengah gempuran perubahan zaman. Bagi kita di lingkungan akademisi dan praktisi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), momentum ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah panggilan mendesak untuk melihat realitas di lapangan. Saat ini, kita sedang menyaksikan potret buram krisis sosial yang kian mengkhawatirkan, mulai dari darurat judi online, maraknya fenomena broken home, perundungan remaja, hingga kerapuhan mental generasi muda yang kian kompleks. Berbagai fenomena ini menjadi alarm keras bahwa benteng domestik kita sedang mengalami keretakan fungsi yang cukup serius.</p><p>​Sebagai seorang konselor sekaligus pendidik, saya melihat bahwa akar dari berbagai krisis sosial ini bermuara pada satu titik: melemahnya fungsi protektif dan edukatif keluarga. Di era digital yang serba cepat ini, rumah sering kali berubah fungsi hanya menjadi tempat singgah fisik, bukan lagi ruang aman untuk bertukar rasa. Anak-anak kehilangan figur dialogis di rumah dan akhirnya mencari validasi serta penyelesaian masalah di dunia maya yang tak berwajah. Di sinilah letak urgensi reaktualisasi fungsi keluarga Islami, sebuah upaya sistematis untuk menghidupkan kembali esensi keluarga bukan hanya sebagai unit biologis, melainkan sebagai sebuah lembaga madrasah (pendidikan) dan fungsi konseling yang pertama dan utama.</p><p>​Dalam kacamata Bimbingan dan Konseling Islam, mereaktualisasikan fungsi keluarga berarti mengembalikan konsep dasar Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah ke dalam interaksi praktis sehari-hari. Keluarga Islami sejatinya dirancang Allah SWT sebagai sistem pendukung (support system) yang memberikan rasa aman (sakinah), menumbuhkan cinta yang dinamis (mawaddah), dan menyebarkan kasih sayang yang tulus (rahmah). Ketika fungsi-fungsi ini mati suri, anak akan tumbuh dengan kekosongan jiwa. Reaktualisasi ini menuntut para orang tua untuk tidak sekadar memenuhi kebutuhan material, tetapi secara sadar mengambil peran sebagai pembimbing spiritual dan mental yang hadir secara utuh bagi anak-anak mereka.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1001059939.png"></figure><p>​Langkah konkret pertama dalam reaktualisasi ini adalah menghidupkan kembali "Komunikasi Qurani" di dalam rumah. Komunikasi Islami yang dicontohkan dalam Al-Qur'an, seperti dialog penuh kasih sayang antara Luqman al-Hakim dengan anaknya atau Nabi Ibrahim dengan Ismail adalah prototipe konseling keluarga yang ideal. Orang tua harus belajar mendengar secara aktif, merespons dengan kalimat yang lembut (qaulan layyina), dan memberikan arahan yang tepat (qaulan sadida). Ketika komunikasi dua arah yang penuh empati ini terbangun di ruang makan atau ruang keluarga, anak-anak tidak akan canggung untuk menumpahkan kecemasan mereka, sehingga intervensi dini terhadap potensi penyimpangan sosial dapat dilakukan sejak dari rumah.</p><p>​Selain komunikasi, keluarga Islami juga harus dikembalikan pada fungsinya sebagai laboratorium penanaman akhlak dan regulasi emosi. Krisis sosial eksternal, seperti tekanan kelompok sebaya (peer pressure) atau paparan konten negatif, hanya bisa ditangkal jika anak memiliki imunitas internal yang kuat. Melalui pembiasaan ibadah bersama, penguatan tauhid, dan keteladanan nyata dari orang tua, anak diajarkan cara membedakan yang hak dan yang batil serta bagaimana mengelola stres secara spiritual. Di sinilah fungsi preventif dari bimbingan keluarga berjalan secara alami, membentuk karakter anak yang tangguh (resilien) menghadapi dinamika lingkungan luar.</p><p>​Tentu saja, tanggung jawab besar ini tidak bisa dibebankan begitu saja kepada orang tua tanpa adanya dukungan sistemis. Di sinilah peran strategis program studi Bimbingan dan Konseling Islam untuk hadir di tengah masyarakat melalui kerja-kerja pengabdian. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk membumikan teori-teori konseling keluarga Islami menjadi panduan praktis yang mudah dipahami oleh masyarakat awam. Melalui edukasi pranikah yang matang, penyuluhan parenting Islami, hingga pembentukan pusat-pusat konseling berbasis komunitas atau masjid, kita dapat membantu para orang tua mendiagnosis dan memulihkan kembali fungsi-fungsi keluarga mereka yang sempat disfungsi.</p><p>​Pada akhirnya, Hari Keluarga Nasional tahun ini harus kita jadikan titik balik untuk menegaskan kembali bahwa keselamatan sebuah bangsa sangat bergantung pada kesehatan mental dan spiritual keluarganya. Menyelamatkan keluarga dari krisis sosial berarti kita sedang menyelamatkan peradaban masa depan. Melalui reaktualisasi fungsi keluarga yang dipadukan dengan pendekatan Bimbingan dan Konseling Islam, kita optimistis rumah-rumah muslim dapat kembali bertransformasi menjadi oase yang meneduhkan. Mari kita kembalikan rumah sebagai tempat pertama anak-anak kita pulang untuk menemukan penerimaan, kedamaian, dan tuntunan hidup yang sejati.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Optimis Raih Hasil Terbaik, Prodi BKI IAIN SAS Babel Resmi Submit Borang Akreditasi BAN-PT Melalui Sistem Daring Terbaru (Sapto 2.0)</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/optimis-raih-hasil-terbaik-prodi-bki-iain-sas-babel-resmi-submit-borang-akreditasi-ban-pt-melalui-sistem-daring-terbaru-sapto-20</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/optimis-raih-hasil-terbaik-prodi-bki-iain-sas-babel-resmi-submit-borang-akreditasi-ban-pt-melalui-sistem-daring-terbaru-sapto-20</guid>
				<pubDate>Thu, 18 Jun 2026 01:16:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p>BANGKA BELITUNG – Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung resmi mengajukan dokumen usulan akreditasi (borang). Proses submit borang akreditasi ini dilakukan secara daring melalui sistem akreditasi terbaru dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada Kamis (18/06/2026).</p><p>Prosesi submit yang menjadi momentum krusial bagi peningkatan mutu akademik ini dikawal langsung oleh pimpinan fakultas dan institut. Hadir mendampingi Tim Penyusun Borang Prodi BKI antara lain Dekan FDKI IAIN SAS Babel, Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag., Wakil Dekan FDKI, Dr. Iqrom Faldiansyah, M.A., serta Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) IAIN SAS Babel, Dr. Ahmad Irvani, M.Ag.</p><p>Dekan FDKI, Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag., dalam arahannya menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh tim kerja yang telah mendedikasikan waktu dan energinya demi merampungkan dokumen akreditasi ini.</p><p>"Submit borang ini bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan wujud komitmen nyata kita dalam menjaga dan meningkatkan mutu tata kelola pendidikan (Good University Governance). Kami optimistis, dengan kerja keras dan sinergi yang luar biasa dari seluruh civitas akademika, Prodi BKI akan meraih hasil akreditasi yang unggul dan terbaik," ujar Prof. Rusydi.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/WhatsApp%20Image%202026-06-18%20at%2013_03_17.jpeg"></figure><p>Pengajuan kali ini memanfaatkan platform digital terbaru yang dikembangkan oleh BAN-PT, yang menuntut akurasi data serta integrasi penjaminan mutu internal yang kuat. Ketua LPM IAIN SAS Babel, Dr. Ahmad Irvani, M.Ag., menegaskan bahwa seluruh dokumen yang diunggah telah melalui proses review dan validasi yang ketat di tingkat lembaga guna memastikan kesesuaian dengan Standar Penjaminan Mutu Internal (SPMI).</p><p>Sementara itu, Wakil Dekan FDKI, Dr. Iqrom Faldiansyah, M.A., menambahkan bahwa keberhasilan tahap submission ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi program studi lain di lingkungan FDKI untuk terus melakukan evaluasi diri secara berkala dan berkelanjutan.</p><p>Dengan resminya proses submit ini, Tim Akreditasi Prodi BKI kini mulai bersiap menyongsong tahapan berikutnya, yakni Asesmen Kecukupan (AK) dan Asesmen Lapangan (AL) oleh Tim Asesor BAN-PT. Penguatan mutu ini diharapkan semakin memperkokoh posisi Prodi BKI IAIN SAS Babel sebagai pusat studi bimbingan dan konseling Islam yang unggul, terpercaya, dan berdampak luas bagi masyarakat.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/WhatsApp%20Image%202026-06-18%20at%2013_03_15.jpeg"></figure>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Etika Tabayyun vs Hate Speech: Memulihkan Kesehatan Mental Masyarakat Lewat Bimbingan dan Konseling Islam</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/etika-tabayyun-vs-hate-speech-memulihkan-kesehatan-mental-masyarakat-lewat-bimbingan-dan-konseling-islam</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/etika-tabayyun-vs-hate-speech-memulihkan-kesehatan-mental-masyarakat-lewat-bimbingan-dan-konseling-islam</guid>
				<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 10:37:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p>Hari Internasional Memerangi Ujaran Kebencian (International Day for Countering Hate Speech) yang diperingati setiap tanggal 18 Juni kembali menyentak kesadaran kita tentang betapa toksiknya ruang digital saat ini. Hate speech atau ujaran kebencian tidak lagi sekadar menjadi polusi kata-kata di media sosial, melainkan telah menjelma menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental masyarakat. Paparan caci maki, fitnah, dan polarisasi yang konstan di lini masa secara perlahan mengikis rasa aman, memicu kecemasan massal, hingga merusak kohesi sosial. Di titik krusial inilah, pendekatan yang komprehensif dan menyentuh akar spiritual sangat dibutuhkan untuk memulihkan kembali kewarasan publik yang kian tergerus.</p><p>​Islam sejak awal telah mendeteksi bahwa kerusakan di muka bumi sering kali bermula dari ketidakmampuan manusia dalam menjaga lisannya, yang di era modern ini mewujud lewat ketikan jempol. Dalam diskursus Islam, obat penawar paling utama untuk menangkal racun informasi dan kebencian adalah etika tabayyun—sebuah konsep verifikasi, check and recheck, serta kejernihan berpikir sebelum merespons suatu stimulus. Ketika seseorang membiasakan diri untuk tabayyun, ia tidak akan mudah terprovokasi oleh narasi-narasi kebencian yang sengaja diembuskan untuk memecah belah. Sayangnya, di tengah arus informasi yang bergerak secepat kedipan mata, tradisi adiluhung ini sering kali kalah cepat oleh dorongan impulsif untuk menghujat.</p><p>​Di sinilah peran strategis Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) hadir sebagai jembatan ilmu yang mengawinkan prinsip psikologis dan nilai-nilai ruhiyah (spiritual). BKI melihat bahwa maraknya hate speech sejatinya adalah gejala dari jiwa-jiwa yang sedang sakit atau mengalami kekosongan spiritual (spiritual emptiness). Konselor BKI tidak hanya melihat perilaku luaran berupa ketikan kasar di media sosial, tetapi masuk lebih dalam untuk menyembuhkan akar masalahnya melalui proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Dengan menata kembali kondisi hati, seseorang akan memiliki regulasi emosi yang lebih matang, sehingga ruang digital tidak lagi dijadikan tempat pelampiasan frustrasi pribadi.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1001041775.png"></figure><p>​Dalam implementasi praktisnya, rekonstruksi kognitif berbasis tabayyun dapat diintegrasikan ke dalam teknik-teknik bimbingan dan konseling. Konselor BKI dapat melatih konseli—terutama generasi muda—untuk menyaring informasi tidak hanya dengan logika, tetapi juga dengan mata hati (basirah). Ketika menerima berita yang memicu amarah, konseli diajak untuk berhenti sejenak (pause), melakukan verifikasi factual, dan menimbang dampak kemaslahatan sebelum membagikan atau mengomentari sesuatu. Proses bimbingan ini secara bertahap mengubah kebiasaan reaktif menjadi respons yang reflektif dan penuh kearifan.</p><p>​Lebih jauh lagi, pemulihan kesehatan mental masyarakat dari dampak hate speech membutuhkan kerja kolektif yang sifatnya preventif dan edukatif. Layanan BKI tidak boleh hanya berdiam di dalam ruang-ruang konseling konvensional, melainkan harus melakukan "jemput bola" ke ruang publik, institusi pendidikan, dan komunitas virtual. Melalui bimbingan kelompok, psikoedukasi, dan kampanye literasi digital yang bermuatan nilai-nilai Qaulan Sadidan (perkataan yang benar) dan Qaulan Layyinan (perkataan yang lemah lembut), masyarakat diajak untuk membangun imunitas mental. Ketika masyarakat memiliki imunitas yang kuat, narasi kebencian jenis apa pun tidak akan mampu menembus dan merusak kedamaian psikologis mereka.</p><p>​Pada akhirnya, memerangi ujaran kebencian bukan sekadar urusan penegakan hukum dan pemblokiran akun oleh otoritas terkait. Ini adalah perjuangan budaya dan spiritual untuk mengembalikan martabat manusia sebagai makhluk yang mulia. Menjadikan etika tabayyun sebagai gaya hidup digital yang dikawal oleh penguatan Bimbingan dan Konseling Islam adalah langkah konkret yang sangat relevan. Dengan membumikan kembali etika komunikasi Islam ini, kita tidak hanya sedang membersihkan lini masa dari polusi kata-kata, tetapi juga sedang merawat kehangatan jiwa dan memulihkan kesehatan mental bangsa demi masa depan yang lebih harmonis.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Terapi Hijrah: Memaknai 1 Muharram 1448 H sebagai Titik Tolak Pemulihan Jiwa</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/terapi-hijrah-memaknai-1-muharram-1448-h-sebagai-titik-tolak-pemulihan-jiwa</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/terapi-hijrah-memaknai-1-muharram-1448-h-sebagai-titik-tolak-pemulihan-jiwa</guid>
				<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 12:42:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p>Pergantian tahun dalam kalender Islam, 1 Muharram 1448 H, sejatinya bukan sekadar rutinitas kalender yang dirayakan dengan seremonial belaka. Momen ini membawa panggilan profetik yang mendalam untuk menengok kembali ke dalam diri. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sering kali menguras energi mental, menyambut tahun baru Islam dengan paradigma "Terapi Hijrah" menawarkan perspektif segar. Hijrah tidak lagi dimaknai secara spasial atau perpindahan fisik semata, melainkan sebuah transformasi kesadaran dan titik tolak esensial bagi pemulihan jiwa (soul recovery) yang sedang lelah atau terluka.</p><p>​Tidak dapat dimungkiri bahwa realitas kehidupan kontemporer kerap menghadapkan manusia pada berbagai tekanan psikologis, mulai dari kecemasan akademis, konflik relasional, hingga krisis eksistensial. Banyak individu terjebak dalam lingkaran trauma masa lalu atau ketakutan akan masa depan, yang bermanifestasi dalam bentuk stres kronis dan hilangnya ketenangan batin. Keadaan ini menegaskan bahwa kebutuhan akan pemulihan psikologis-spiritual menjadi kian mendesak. Di sinilah momentum 1 Muharram 1448 H hadir sebagai jeda kemanusiaan yang sakral, sebuah kesempatan emas untuk menekan tombol restart pada kehidupan emosional dan spiritual kita.</p><p>​Secara konseptual, Terapi Hijrah mengintegrasikan esensi historis migrasi Nabi Muhammad SAW dengan prinsip-prinsip resiliensi psikologis. Konsep ini memandang hijrah sebagai proses terapeutik aktif untuk bermigrasi dari pola pikir yang destruktif (self-limiting beliefs) menuju pola pikir yang bertumbuh (growth mindset). Memulai Terapi Hijrah berarti memiliki keberanian untuk meninggalkan kebiasaan buruk, memutus rantai emosi negatif, dan merestrukturisasi cara kita memandang kegagalan hidup. Ini adalah sebuah upaya sadar untuk memindahkan episentrum orientasi hidup dari kecemasan duniawi menuju ketenteraman yang bersumber pada rida Ilahi.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1001038455(1).png"></figure><p>​Pemulihan jiwa melalui jalur spiritual ini berjalan selaras dengan pendekatan konseling modern yang menekankan pentingnya penerimaan (acceptance) dan pemaknaan ulang emosi. Dalam Terapi Hijrah, muhasabah atau introspeksi diri berfungsi sebagai alat diagnosis personal untuk mengenali luka-luka batin yang selama ini diabaikan. Dengan memvalidasi perasaan terluka tersebut secara spiritual, seseorang diajak untuk melepaskan beban dendam dan rasa bersalah melalui mekanisme pemaafan (forgiveness). Melalui kesadaran baru di tahun 1448 H ini, narasi hidup yang penuh penderitaan dapat diubah menjadi kisah tentang ketangguhan dan hikmah.</p><p>​Implementasi nyata dari Terapi Hijrah ini dapat dimulai dari langkah-langkah kecil namun konsisten di awal tahun baru Islam ini. Membangun ruang-ruang refleksi sunyi di sepertiga malam, memperbaiki kualitas komunikasi dengan Sang Pencipta, serta menyaring informasi yang masuk ke dalam pikiran adalah bentuk nyata dari diet mental yang sehat. Selain itu, hijrah jiwa juga melibatkan kerelaan untuk mencari dukungan profesional atau ekosistem sosial yang suportif demi menyembuhkan distorsi kognitif yang mengganggu kesejahteraan batin. Jiwa yang sehat tidak terbentuk dalam semalam, melainkan melalui komitmen migrasi harian menuju kebaikan.</p><p>​Akhirnya, menyambut 1 Muharram 1448 H dengan kesadaran Terapi Hijrah akan mengubah cara kita memandang waktu dan diri sendiri. Tahun baru tidak lagi menjadi sekadar angka yang berganti, melainkan sebuah gerbang pembebasan dari belenggu psikologis yang menahan potensi terbaik kemanusiaan kita. Mari jadikan momentum suci ini sebagai deklarasi untuk berdamai dengan masa lalu, menguatkan langkah di masa kini, dan menyongsong masa depan dengan optimisme spiritual. Sebab, esensi hijrah yang sejati adalah ketika jiwa berhasil menemukan jalan pulang menuju ketenangan yang hakiki.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Siswa Bukan Sekadar Angka: Menilik Potensi yang Luput dari Tes Kemampuan Akademik</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/siswa-bukan-sekadar-angka-menilik-potensi-yang-luput-dari-tes-kemampuan-akademik</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/siswa-bukan-sekadar-angka-menilik-potensi-yang-luput-dari-tes-kemampuan-akademik</guid>
				<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 11:47:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><i>Ketika pengumuman hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) dirilis, riuh rendah perayaan prestasi bergema di berbagai sudut Bangka Belitung. Capaian peringkat ke-6 nasional untuk jenjang SD dan peringkat ke-9 untuk jenjang SMP adalah buah manis dari kerja keras kolektif pendidik dan siswa kita. Namun, di balik angka-angka yang memukau tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama sebagai praktisi pendidikan: apakah deret skor ini benar-benar memotret seluruh potensi siswa, ataukah kita hanya sedang merayakan permukaan dari sebuah gunung es yang jauh lebih dalam dan kompleks?</i></p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1000302023.png"></figure><p><strong>Euphoria Angka dan Jebakan Standarisasi</strong></p><p>​Beberapa waktu lalu, jagat pendidikan di Bangka Belitung diselimuti euforia yang cukup beralasan. Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tahun 2026 membawa kabar membanggakan; Kota Pangkalpinang berhasil mengukir prestasi gemilang dengan menempati peringkat ke-6 nasional untuk jenjang SD dan peringkat ke-9 nasional untuk jenjang SMP. Capaian ini tentu bukan kebetulan, melainkan buah dari sinergi, kerja keras, dan dedikasi luar biasa dari para siswa, guru, serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan di daerah kita. Prestasi ini adalah modal berharga yang menunjukkan bahwa siswa kita memiliki daya saing yang mampu menembus standar nasional.</p><p>​Namun, di balik gemerlap capaian statistik tersebut, mari kita mengambil jeda sejenak untuk berefleksi. Sebagai pendidik dan praktisi Bimbingan dan Konseling, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang krusial: apakah deret angka dan peringkat ini benar-benar telah merepresentasikan sosok siswa kita secara utuh? TKA, pada hakikatnya, adalah potret kognitif yang memotret "apa" yang bisa dijawab oleh siswa dalam satu waktu, namun ia sering kali gagal menangkap "siapa" siswa tersebut sebenarnya. Kita sering lupa bahwa di balik angka-angka tersebut, terdapat jiwa yang memiliki keragaman bakat, ketangguhan emosional, dan potensi unik yang tidak selamanya bisa dipetakan oleh instrumen ujian standar.</p><p>​Kemenangan dalam standarisasi ini berisiko menjebak kita dalam ilusi bahwa pendidikan hanyalah tentang kompetisi statistik dan perolehan skor tinggi. Jika kita terlalu asyik merayakan angka, kita terancam lalai pada esensi utama pendidikan itu sendiri: memanusiakan manusia. Pendidikan bukan sekadar perlombaan untuk menempati peringkat tertinggi di papan nasional, melainkan proses panjang untuk menggali potensi, membangun karakter, dan membekali siswa dengan kecakapan hidup.</p><p>​Ketika kita menjadikan hasil TKA sebagai satu-satunya penentu keberhasilan, kita sedang mempersempit ruang tumbuh kembang siswa ke dalam kotak-kotak kaku. Padahal, tugas kita sebagai pendidik jauh lebih luas dari sekadar mencetak nilai—kita dipanggil untuk melihat melampaui lembar jawaban, memahami keunikan individu, dan memastikan bahwa setiap anak, terlepas dari skor yang mereka peroleh, mendapatkan ruang untuk tumbuh menjadi pribadi yang berdaya di tengah masyarakat.</p><p><strong>Kesenjangan antara Skor TKA dan "Life Skills"</strong></p><p>​TKA 2026 yang dilaksanakan pada periode April hingga Mei memang telah menunjukkan upaya progresif dalam memotret kemampuan siswa. Instrumen ini tidak lagi sekadar menghitung hafalan, melainkan menyasar kedalaman literasi membaca, kemampuan numerasi, serta mencakup survei karakter dan lingkungan belajar. Data yang dihasilkan dari proses ini tentu menjadi peta jalan yang sangat berguna bagi evaluasi kebijakan pendidikan. Namun, sebagai praktisi pendidikan, kita harus cukup jujur untuk mengakui adanya "titik buta" (blind spot) dalam instrumen formal ini yang perlu disikapi dengan bijak.</p><p>​Dari perspektif Bimbingan dan Konseling (BK), ada dimensi-dimensi kemanusiaan yang cenderung terabaikan oleh ujian formal. Kita berbicara tentang ketangguhan mental (resiliensi), empati yang mendalam, kecerdasan interpersonal, serta kemampuan adaptasi sosial di tengah dinamika masyarakat yang kompleks. Ujian standar mungkin bisa menilai pemahaman konsep matematika dengan presisi tinggi, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk mengukur seberapa gigih seorang siswa bangkit saat ia menghadapi kegagalan, atau seberapa luwes ia menjalin kerja sama dalam tim yang memiliki latar belakang dan pandangan berbeda.</p><p>​Ilustrasi yang paling gamblang adalah kenyataan bahwa skor TKA yang tinggi tidak selalu berkorelasi lurus dengan kematangan problem-solving di dunia nyata. Seorang siswa mungkin mampu menuntaskan soal numerasi tersulit dengan akurasi seratus persen di dalam ruang kelas, namun bisa jadi ia gagap saat dihadapkan pada dilema moral, konflik teman sebaya, atau krisis pribadi yang membutuhkan pengambilan keputusan cepat. Dunia nyata jarang sekali menyajikan pilihan ganda dengan jawaban A, B, C, atau D yang sudah tersedia. Kehidupan menuntut kreativitas, negosiasi, dan kematangan emosi—aspek esensial yang hingga kini belum tersentuh secara utuh oleh perangkat evaluasi formal.</p><p>​Inilah titik krusial di mana peran Bimbingan dan Konseling menjadi sangat vital. Saat ujian formal berhenti pada angka, layanan BK justru masuk untuk merajut kompetensi non-akademis yang luput dari radar ujian. Keberadaan konselor di sekolah bukan sekadar pelengkap, melainkan garda terdepan untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya "cerdas" secara kognitif, tetapi juga "matang" secara karakter. Kita perlu mengisi ruang-ruang kosong tersebut dengan pendampingan yang menyentuh esensi perilaku, agar kelak, siswa kita tidak hanya menjadi penakluk soal ujian, tetapi juga penakluk tantangan kehidupan yang nyata.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1000302020.png"></figure><p><strong>Menggeser Paradigma: Dari "Nilai" ke "Makna"</strong></p><p>​Saatnya kita berani melakukan reorientasi terhadap apa yang sebenarnya kita kejar di dunia pendidikan. Sebagai pendidik, tugas kita sejatinya melampaui ambisi memastikan siswa meraih skor tinggi atau menduduki peringkat nasional. Fokus kita yang sesungguhnya adalah membantu mereka menemukan "arah" hidup. Jika kita hanya sibuk mengejar nilai, kita berisiko mencetak generasi yang cerdas secara akademik namun kehilangan kompas moral dan tujuan masa depan.</p><p>​Paradigma Outcome-Based Education (OBE) yang kini tengah kita kembangkan di dunia pendidikan memberikan landasan yang tepat untuk pergeseran ini. OBE mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada sekadar penyelesaian kurikulum atau perolehan nilai tes, melainkan berfokus pada "apa" yang mampu dilakukan dan dihasilkan oleh siswa setelah mereka menempuh proses pembelajaran. Dalam kacamata ini, keberhasilan sejati bukanlah akumulasi angka di atas kertas, melainkan kemampuan siswa untuk mengintegrasikan pengetahuan akademisnya dengan nilai-nilai karakter yang kokoh. Seorang siswa yang sukses adalah mereka yang mampu menggunakan kecerdasan intelektualnya untuk memecahkan masalah nyata, membangun empati, dan berkontribusi positif bagi lingkungannya.</p><p>​Di sinilah peran konselor sekolah menjadi sangat krusial sebagai garda terdepan. Kita harus mampu mengubah narasi hasil TKA yang selama ini sering dianggap sebagai "vonis akhir" atas kemampuan seorang anak. Bagi konselor, hasil tes tersebut hanyalah sekadar "peta jalan" (roadmap)—sebuah instrumen diagnostik yang memberikan gambaran tentang titik awal perkembangan siswa. Peta tersebut tidak menentukan di mana siswa harus berhenti, tetapi membantu mereka melihat ke mana arah yang harus ditempuh untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal.</p><p>​Dengan menggeser paradigma dari "menilai" menjadi "memaknai", kita memberikan ruang bagi siswa untuk tumbuh sebagai individu yang utuh. Tugas kita bukan untuk membatasi mereka dalam kotak-kotak kaku hasil ujian, melainkan membimbing mereka untuk menavigasi masa depan dengan keyakinan diri. Ketika kita mampu menempatkan TKA sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu nasib, kita sebenarnya sedang membangun fondasi pendidikan yang lebih manusiawi, relevan, dan bermakna bagi masa depan siswa kita.</p><p><strong>Bangka Belitung: Menatap Masa Depan dengan Perspektif Holistik</strong></p><p>​Pada akhirnya, keberhasilan Kota Pangkalpinang dan daerah lainnya di Bangka Belitung menembus peringkat sepuluh besar nasional dalam TKA 2026 adalah sebuah tonggak sejarah yang patut kita syukuri. Ini adalah bukti bahwa anak-anak kita memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni dan daya saing yang patut diperhitungkan. Namun, sebagai refleksi penutup, kita harus bijak memandang pencapaian ini. Peringkat nasional hanyalah sebuah titik, bukan garis finis. Tantangan terbesar kita ke depan justru adalah bagaimana menjaga agar anak-anak kita tidak terjebak dalam tekanan "kejar skor" yang semu, yang hanya akan menguras energi tanpa menyentuh esensi perkembangan diri mereka.</p><p>​Kita perlu bersepakat bahwa beban pendidikan tidak boleh hanya ditumpukan pada pundak siswa untuk sekadar mendongkrak angka di atas kertas. Saya mengajak seluruh elemen—para pendidik yang berada di ruang kelas, orang tua yang menjadi pendamping pertama di rumah, hingga para pembuat kebijakan di level daerah—untuk bersama-sama menggeser fokus kita. Mari kita buat lingkungan pendidikan di Bangka Belitung menjadi ruang yang lebih ramah bagi pertumbuhan bakat yang unik, ruang yang lebih menghargai proses daripada sekadar hasil akhir yang terstandarisasi.</p><p>​Layanan Bimbingan dan Konseling harus menjadi jantung dari perubahan ini. Kita perlu memperkuat layanan yang tidak hanya berfokus pada remedial akademik, tetapi juga layanan yang menyentuh sisi emosional, kesehatan mental, dan pengembangan bakat unik setiap siswa. Konselor sekolah harus diberikan ruang dan dukungan penuh untuk mendampingi siswa, memastikan mereka memiliki ketangguhan mental untuk menghadapi dunia yang tidak bisa diprediksi, dan rasa percaya diri untuk memegang kendali atas jalan hidup mereka sendiri.</p><p>​Peringkat nasional yang kita raih hari ini adalah modal awal yang luar biasa. Namun, warisan pendidikan yang sesungguhnya yang ingin kita tinggalkan bagi Bangka Belitung bukanlah deretan angka statistik, melainkan lahirnya generasi yang paripurna. Generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara karakter, kokoh secara mental, dan memiliki keberanian untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Mari kita melangkah bersama, melampaui angka, menuju masa depan yang lebih bermakna bagi anak-anak kita.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Khalifah di Bumi Timah: Memulihkan Laut Babel Lewat Konseling Ekologis Berbasis Islam</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/khalifah-di-bumi-timah-memulihkan-laut-babel-lewat-konseling-ekologis-berbasis-islam</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/khalifah-di-bumi-timah-memulihkan-laut-babel-lewat-konseling-ekologis-berbasis-islam</guid>
				<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 08:29:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><i>Di balik upacara dan ucapan selamat, Pancasila menunggu untuk benar-benar dihidupi — bukan di atas podium, melainkan di tepi laut yang semakin sakit, di tengah komunitas pesisir yang masih gigih menjaga lautnya.</i></p><p>Setiap awal Juni, bangsa ini kembali merayakan hari lahir Pancasila. Spanduk terpasang, ucapan selamat Hari Lahir Pancasila membanjiri media sosial, dan pidato berbunyi hampir sama dari tahun ke tahun. Namun ada pertanyaan yang layak kita jawab dengan jujur: apakah kita benar-benar merayakan, ataukah sekadar menjalankan rutinitas tahunan?</p><p>Pancasila bukan lahir dari ruang yang nyaman. Ia lahir dari kegelisahan, dari pergulatan panjang bangsa yang beragam untuk bisa hidup bersama secara adil dan bermartabat. Maka merayakannya pun mestinya bukan di atas podium saja — tapi di tempat di mana nilai itu benar-benar diuji. Di laut. Di pesisir. Di komunitas yang sudah lama menggantungkan hidup pada alam yang kini mulai tak bisa lagi diandalkan.</p><p>Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, pencemaran plastik dan aktivitas tambang timah ilegal masih jadi ancaman nyata bagi pesisir Bangka Belitung. Terumbu karang rusak, ikan makin susah dicari, dan komunitas nelayan pelan-pelan kehilangan pegangan. Yang menyedihkan, semua kerusakan ini lahir dari tangan kita sendiri &nbsp;persis seperti yang sudah diperingatkan Allah dalam QS Ar-Rum: 41.</p><p>Di sinilah Pancasila dituntut berbicara lebih dari sekadar teks. Dan di sinilah konseling ekologis berbasis Islam — sebagai gerakan pemulihan kesadaran yang berakar di masyarakat pesisir — mengambil perannya yang paling relevan.</p><p><strong>Sila Pertama: Tauhid Komunitas Sebagai Fondasi Ekologi</strong></p><p>Akar dari kerusakan laut Babel sebenarnya bukan soal teknologi atau regulasi yang kurang. Akar masalahnya lebih dalam dari itu yakni soal kesadaran yang hilang. Ketika seseorang menambang tanpa memikirkan reklamasi, atau membuang sampah begitu saja ke laut, di situ ada sesuatu yang salah dalam dirinya: ia tidak lagi merasa bertanggung jawab kepada siapapun.</p><p>Konseling ekologis berbasis Islam hadir untuk mengembalikan kesadaran itu. Bahwa manusia adalah khalifah fil ardh (QS Al-Baqarah: 30) &nbsp;bukan tuan yang bebas menguras, tapi penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika tauhid ini dirawat bersama &nbsp;di majelis kampung, di forum nelayan, di dakwah pesisir maka ia &nbsp;bukan lagi sekadar pengetahuan agama. Ia menjadi norma hidup yang lebih kuat dari perda manapun. Slogan "jaga laut" berhenti jadi kewajiban negara, dan berubah menjadi ibadah yang diemban bersama.</p><p><strong>Sila Kedua: Etika Ekologis Sebagai Karakter Komunitas</strong></p><p>"Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" menuntut empati yang melampaui kepentingan sesaat. Konseling komunitas berbasis Islam menanamkan etika ekologis berupa kesadaran kolektif untuk merasakan penderitaan nelayan yang jaringnya kosong, kepedulian terhadap terumbu karang yang mati, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan pesisir Babel.</p><p>Prinsip akhlak ihsan &nbsp;berbuat baik bukan karena diawasi, tetapi karena sadar Allah Maha Melihat &nbsp;ditanamkan melalui pendampingan komunitas secara konsisten. Ketika etika ini menjadi karakter kolektif suatu kampung nelayan, perilaku merusak lingkungan akan mendapat tekanan sosial yang organik dan berkelanjutan.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1000301632.jpg"></figure><p><strong>Sila Ketiga: Ukhuwah Ekologis Lintas Kelompok</strong></p><p>"Bhinneka Tunggal Ika" adalah kunci penyelamatan laut Babel. Konflik antara komunitas nelayan, penambang, pelaku pariwisata, dan pemerintah hanya dapat diurai jika ada ukhuwah ekologis dan persaudaraan yang dibangun di atas tujuan Bersama yakni kelestarian laut Babel untuk semua.</p><p>Konseling komunitas Islam menumbuhkan budaya musyawarah dan gotong royong lintas kelompok. Tradisi "berkampung" membersihkan pantai yang pernah menjadi identitas komunitas pesisir Babel harus dihidupkan kembali sebagai gerakan bersama. Karena laut tidak bisa diselamatkan oleh satu lembaga atau satu komunitas saja tapi ia membutuhkan koalisi nilai yang mengikat semua pihak.</p><p><strong>Sila Keempat: Musyawarah Sebagai Tata Kelola Komunitas</strong></p><p>Polemik tambang timah versus nelayan, reklamasi versus konservasi, tidak akan selesai dengan benturan kepentingan. Ia membutuhkan ruang musyawarah yang jujur. Konseling permusyawarahan ekologis melatih komunitas Babel berdialog dengan data, bukan emosi; mencari maslahat bersama, bukan kemenangan sepihak.</p><p>Kearifan lokal bedulang dan nganggung membuktikan bahwa tradisi bermusyawarah secara adil sudah mengakar kuat di Bumi Timah ini. Yang dibutuhkan adalah menghidupkannya kembali dalam forum-forum pengambilan keputusan lingkungan, sehingga kebijakan yang lahir benar-benar merepresentasikan suara seluruh komunitas.</p><p><strong>Sila Kelima: Keadilan untuk Manusia dan Bumi</strong></p><p>Bicara soal kelestarian lingkungan tanpa menyentuh soal keadilan sosial adalah omong kosong. Komunitas nelayan kecil tidak boleh jadi tumbal investasi besar. Penambang tradisional tidak boleh dimiskinkan hanya demi mengejar label "hijau" yang kadang lebih banyak bicara di kota daripada di lapangan.</p><p>Konseling ekologis berbasis Islam berpijak pada prinsip yang sederhana tapi tegas: la darara wa la dirara &nbsp;jangan merugikan diri sendiri, dan jangan merugikan orang lain. QS Al-Qasas: 77 sudah mengingatkan jauh-jauh hari agar kite tidak membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.</p><p>Pembangunan Babel harus inklusif. Ekonomi jalan, laut terjaga, dan rakyat kecil di pesisir tetap bisa hidup dengan layak. Bukan salah satu saja. Itu baru namanya Pancasila yang adil &nbsp;yang tidak hanya indah di mulut, tapi terasa hangat di kehidupan nyata.</p><p><strong>Penutup: Khalifah Lahir dari Komunitas</strong></p><p>Kite tidak kekurangan aturan. Yang kite butuhkan adalah komunitas yang benar-benar Pancasilais — yang tidak hanya hafal silanya, tapi merasakannya dalam setiap langkah hidup bersama. Konseling ekologis berbasis Islam hadir bukan untuk menggurui, tapi untuk menemani: memulihkan kesadaran yang sempat tidur, membangun solidaritas yang sempat retak, dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang sebenarnya sudah lama ada dalam diri kita &nbsp;— hanya perlu dirawat kembali.</p><p>Karena yang akan menyelamatkan Bumi Timah bukan pidato. Bukan juga poster. Melainkan komunitas-komunitas khalifah yang bangkit bersama, dengan tangan yang mau bekerja dan hati yang masih mau peduli.</p><p><i>Pangkal Pinang, 1 Juni 2026</i></p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Jalin Sinergi Akademik, Prodi BKI IAIN SAS Babel dan IAIN Parepare Resmi Teken Perjanjian Kerja Sama</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/jalin-sinergi-akademik-prodi-bki-iain-sas-babel-dan-iain-parepare-resmi-teken-perjanjian-kerja-sama</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/jalin-sinergi-akademik-prodi-bki-iain-sas-babel-dan-iain-parepare-resmi-teken-perjanjian-kerja-sama</guid>
				<pubDate>Fri, 22 May 2026 08:22:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>PAREPARE</strong> – Mengukuhkan komitmen bersama dalam memajukan mutu pendidikan tinggi Islam, Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung resmi menjalin kerja sama dengan Program Studi BKI IAIN Parepare. Prosesi penandatanganan berkas Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini berlangsung khidmat di sela-sela rangkaian kegiatan akademik bersama yang digelar di Ruang Aula Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Parepare.</p><p>Langkah strategis lintas pulau ini diambil sebagai respons nyata kedua lembaga dalam menghadapi dinamika kurikulum berbasis <strong>Outcome-Based Education</strong> (OBE) serta pemenuhan standar penjaminan mutu eksternal. Melalui payung kemitraan yang legal ini, kedua program studi bersepakat untuk saling mendukung dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup bidang pendidikan, penelitian kolaboratif, hingga pengabdian masyarakat yang berfokus pada pengembangan profesi konseling Islam.</p><p>Ketua Program Studi BKI IAIN SAS Babel, Pebri Yanasari, M.A., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan hangat yang diberikan oleh sivitas akademika IAIN Parepare. Beliau menekankan bahwa PKS ini bukan sekadar pemenuhan dokumen formalitas untuk kepentingan akreditasi program studi semata. Lebih dari itu, kerja sama ini dirancang sebagai jembatan emas bagi dosen dan mahasiswa dari kedua institusi untuk saling bertukar pikiran, budaya, dan inovasi keilmuan demi memperkuat eksistensi profesi konselor Islam di Indonesia.</p><p>Pihak IAIN SAS Babel menaruh harapan besar agar implementasi dari perjanjian ini dapat segera diwujudkan melalui program-program yang konkret, seperti pertukaran mahasiswa merdeka, joint research (penelitian bersama) antar-dosen, serta kolaborasi penulisan karya ilmiah bertaraf nasional. Melalui sinergi ini, diharapkan lulusan BKI dari bumi <strong>Serumpun Sebalai</strong> memiliki wawasan yang lebih inklusif dan siap bersaing di kancah profesional dengan membawa bekal pengalaman akademik yang kaya melintasi batas geografis.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1000299614.jpg"></figure><p>Gayung bersambut, Ketua Program Studi BKI IAIN Parepare, Emilia Mustary, M.Psi., merespons harapan tersebut dengan optimisme yang tinggi. Beliau menyatakan bahwa kehadiran tim BKI IAIN SAS Babel membawa angin segar sekaligus perspektif baru yang sangat berharga bagi pengembangan akademik di lingkungan FUAD IAIN Parepare. Pihaknya berkomitmen penuh untuk mengawal seluruh poin kesepakatan dalam PKS ini agar dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi peningkatan kompetensi mahasiswa di kedua belah pihak.</p><p>Emilia Mustary, M.Psi. juga menambahkan bahwa kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk saling melengkapi keunggulan lokal masing-masing institusi. IAIN Parepare yang kental dengan nilai-nilai budaya Bugis-Makassar akan sangat menarik jika disandingkan dengan corak kearifan lokal Bangka Belitung dalam ranah praktik konseling multikultural. Harapannya, integrasi ini melahirkan model-model pendekatan konseling Islam baru yang lebih adaptif, kaya, dan senantiasa relevan dengan karakter masyarakat majemuk.</p><p>Prosesi penandatanganan naskah kerja sama tersebut disaksikan langsung oleh para pejabat struktural fakultas, jajaran dosen pengampu, serta puluhan mahasiswa yang hadir memadati ruangan. Atmosfer akademik yang positif begitu terasa ketika dokumen resmi tersebut ditandatangani oleh Pebri Yanasari, M.A. dan Emilia Mustary, M.Psi., menandai dimulainya babak baru kemitraan strategis yang diproyeksikan akan berlangsung untuk beberapa tahun ke depan.</p><p>Sinergi kelembagaan ini diyakini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan tata kelola organisasi program studi di kedua perguruan tinggi Islam tersebut. Di tengah tuntutan standardisasi mutu pendidikan yang semakin ketat, model kolaborasi aktif seperti ini dinilai sebagai strategi terbaik untuk saling mendampingi, berbagi praktik terbaik (<strong>best practices</strong>), dan mempercepat pencapaian indikator kinerja utama masing-masing program studi.</p><p>Kegiatan bersejarah ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cideramata khas daerah sebagai simbol eratnya ikatan silaturahmi akademik yang telah terbangun. Dengan resminya jalinan kerja sama ini, baik BKI IAIN SAS Babel maupun BKI IAIN Parepare kini siap melangkah bersama menavigasi tantangan dunia pendidikan, demi mencetak generasi konselor Muslim yang profesional, adaptif, dan berintegritas tinggi.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Program Studi BKI IAIN SAS Babel Gelar Visiting Lecture di IAIN Parepare</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/perkuat-kompetensi-mahasiswa-program-studi-bki-iain-sas-babel-gelar-visiting-lecture-di-iain-parepare</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/perkuat-kompetensi-mahasiswa-program-studi-bki-iain-sas-babel-gelar-visiting-lecture-di-iain-parepare</guid>
				<pubDate>Fri, 22 May 2026 08:08:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>PAREPARE</strong> – Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung sukses melaksanakan kegiatan Visiting Lecture di IAIN Parepare, Sulawesi Selatan. Kegiatan akademik lintas pulau ini berfokus pada penguatan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan profesi yang kian dinamis.</p><p>Acara yang berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026 ini digelar di Ruang Aula Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Parepare. Sebanyak kurang lebih 60 mahasiswa dari program studi BKI IAIN Parepare hadir dengan antusiasme tinggi untuk menyerap ilmu dari praktisi dan akademisi asal Bangka Belitung tersebut.</p><p>Dosen dari IAIN SAS Babel hadir langsung sebagai narasumber utama dengan membawa perspektif keilmuan yang segar.</p><p>Pebri Yanasari, M.A. membawakan materi yang sangat kontekstual mengenai "Bimbingan Konseling Multikultural Berbasis Kearifan Lokal Bangka Belitung". Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya bagi calon konselor untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam proses konseling, guna menghadapi masyarakat yang semakin majemuk.</p><p>Kegiatan Visiting Lecture ini bukan sekadar forum transfer pengetahuan, melainkan juga menjadi wadah silaturahmi akademik dan penguatan kerja sama kelembagaan antara IAIN SAS Bangka Belitung dan IAIN Parepare.</p><p>Melalui kolaborasi ini, diharapkan para mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan teoritis baru yang melintasi batas geografis, tetapi juga termotivasi untuk menjadi lulusan yang adaptif, profesional, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1000299605(1).jpg"></figure><p>Dalam sesi penyampaiannya, Pebri Yanasari, M.A. mengupas secara mendalam bagaimana kekayaan sosiokultural Bangka Belitung dapat diintegrasikan ke dalam pendekatan konseling modern. Beliau menjelaskan bahwa konsep kerukunan masyarakat kepulauan tersebut, seperti filosofi "<strong>Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong</strong>" (etnis Tionghoa dan Melayu sama saja), merupakan modal sosial yang luar biasa dalam membangun hubungan terapeutik yang inklusif. Pendekatan naratif ini membuka cakrawala baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya seorang konselor memahami latar belakang kultural konseli agar tidak terjebak dalam bias budaya saat memberikan layanan.</p><p>Lebih lanjut, narasi perkuliahan berfokus pada urgensi rekonstruksi teknik bimbingan yang adaptif terhadap nilai-nilai lokal. Mahasiswa diajak untuk melihat bahwa bimbingan dan konseling bukan sekadar teori barat yang kaku, melainkan sebuah seni berkomunikasi yang menghargai adat istiadat, norma, serta kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Dengan memahami karakteristik unik masyarakat kepulauan, calon konselor diharapkan mampu merancang program layanan responsif yang dapat menyentuh aspek psikologis terdalam dari individu yang dibimbing.</p><p>Suasana perkuliahan umum ini menjadi kian dinamis saat memasuki sesi diskusi interaktif, di mana terjadi pertukaran perspektif kebudayaan yang kaya antara bumi <strong>Serumpun Sebalai</strong> (Bangka Belitung) dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Para mahasiswa FUAD IAIN Parepare secara aktif membandingkan karakteristik nilai lokal mereka dengan materi yang dipaparkan. Dialog lintas budaya ini tidak hanya memperkaya khazanah teoritis mahasiswa BKI, tetapi secara praktis memberikan simulasi nyata bagaimana kompetensi multikultural diimplementasikan dalam ruang akademik sebelum nantinya diterapkan secara profesional di masyarakat luas.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>FDKI IAIN SAS Babel lakukan Memorandum of Agreement dengan Persatuan Kaunselir (PEKA) Malaysia</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/fdki-iain-sas-babel-lakukan-memorandum-of-agreement-dengan-persatuan-kaunselir-peka-malaysia</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/fdki-iain-sas-babel-lakukan-memorandum-of-agreement-dengan-persatuan-kaunselir-peka-malaysia</guid>
				<pubDate>Sat, 29 Nov 2025 09:35:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>Prodi BKI</strong> - Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung melakukan Moratorium of Agreement (MoA) dengan Persatuan Kauselir (PEKA) Malaysia. Hal ini dilakukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi internasional.</p><p>Dekan FDKI, Rusydi Sulaiman menjelaskan bahwa MoA tersebut dilaksanakan sebagai sinergi akademik FDKI khususnya Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam seperti pelaksanaan program visiting lecture sebagai bentuk pertukaran keilmuan antara dosen FDKI dan kampus-kampus di Indonesia dan Malaysia. sebagai tindak lanjut direncanakan pada awal tahun 2026 mendatang dan akan melibatkan jajaran pimpinan fakultas. “InsyaAllah awal tahun depan kita (FDKI) yang akan berkunjung ke Malaysia, dan mereka sangat welcome untuk itu,” katanya, Jumat (28/11/2025).</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/ok.jpg"></figure><p>Program ini diharapkan dapat memperluas perspektif akademisi dalam pengembangan ilmu konseling Islam yang berorientasi global.Ia menambahkan, upaya memperluas jejaring internasional ini merupakan lanjutan dari kolaborasi antara Program Studi BKI FDKI dan BKPI Fakultas Tarbiyah dengan Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia (PEKA), yang sebelumnya telah melaksanakan serangkaian kegiatan di Bangka Belitung, termasuk International Conference on Islamic Counseling Studies 2025 yang berlangsung di Aula Terpadu Lantai I IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.</p><p>Melalui MoA dan kunjungan akademik ini, FDKI menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi serta memperkokoh posisi IAIN SAS Babel dalam peta kerja sama pendidikan internasional.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Prodi BKI IAIN SAS Babel Gelar International Conference on Islamic Counseling Studies 2025</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/prodi-bki-iain-sas-babel-gelar-international-conference-on-islamic-counseling-studies-2025</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/prodi-bki-iain-sas-babel-gelar-international-conference-on-islamic-counseling-studies-2025</guid>
				<pubDate>Fri, 28 Nov 2025 04:01:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>Bangka, 28/11-2025.</strong> — Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung melakukan penyelenggaraan International Conference on Islamic Counseling Studies 2025, yang berlangsung pada 28 November 2025 di Aula Terpadu Lantai 1 IAIN SAS Babel.</p><p style="text-align:justify;">Mengangkat tema <i>“Searching for Meaning; Strengths to Enhance Resilience and Well-Being”</i>, konferensi internasional ini menjadi ruang ilmiah yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi konseling dari Indonesia dan Malaysia. Kegiatan ini menyoroti pentingnya pencarian makna hidup serta penguatan potensi diri sebagai fondasi dalam meningkatkan ketangguhan (resilience) dan kesejahteraan psikologis.</p><p style="text-align:justify;">Acara dipandu oleh moderator Wahyudi, M.A, dengan narasumber dari Malaysia diwakili oleh para pakar konseling PEKA Malaysia, seperti Hishamuddin<strong> </strong>Salleh, Datin Dr. Siti Taniza dan M. Saffuan bin Abdullah, KB., PA<strong> </strong>dari Indonesia yaitu Dr. Nikmarijal, M. Pd selaku Ketua Prodi BKPI dan Nurviyanti Cholid, M. Pd., I selaku Plt. Ketua Prodi BKI IAIN SAS Bangka Belitung.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/bkpi-international-conference-on-islamic-counseling-studies-2025.jpeg"></figure><p style="text-align:justify;">Konferensi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga medium memperkuat jejaring internasional serta kolaborasi riset antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam pengembangan keilmuan bimbingan konseling Islam. Kegiatan ini bentuk kolaborasi antara prodi BKPI dengan BKI IAIN SAS Bangka Belitung.</p><p style="text-align:justify;">Dengan antusiasme peserta yang tinggi serta materi ilmiah yang kaya, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kapasitas konselor masa depan, sekaligus memperkokoh posisi BKPI IAIN SAS sebagai program studi yang aktif dalam kancah akademik internasional.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Pelatihan Internasional: Prodi BKI Bekali Mahasiswa dengan Certified Professional Psychological First Aid (PFA)</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/pelatihan-internasional-prodi-bki-bekali-mahasiswa-dengan-certified-professional-psychological-first-aid-pfa</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/pelatihan-internasional-prodi-bki-bekali-mahasiswa-dengan-certified-professional-psychological-first-aid-pfa</guid>
				<pubDate>Thu, 27 Nov 2025 03:37:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>Bangka, 27/11-2025.&nbsp;</strong>Pelatihan Internasional Certified Professional Psychological First Aid (PFA) yang diikuti oleh para peserta dengan antusias. Dalam pelatihan ini, peserta memperoleh wawasan dan keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan pertama psikologis kepada individu yang mengalami situasi darurat atau tekanan emosional. Suasana pelatihan terlihat hangat dan penuh kebersamaan, mencerminkan semangat para peserta untuk belajar dan meningkatkan kompetensi di bidang layanan psikososial. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas peserta dalam memberikan dukungan yang empatik, profesional, dan efektif di berbagai situasi.&nbsp;</p><p>Pelatihan ini tidak hanya dilakukan dalam satu hari secara tatap muka melainkan juga dilaksanakan secara online selama 5 hari untuk pemahaman materi dan pendalaman terkait PFA. &nbsp;pelatihan yang dilakukan ini buktinya bahwa BKPI siap untuk terus berkembang dan maju kedepannya, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan PEKA Malaysia dan prodi BKI IAIN SAS Bangka Belitung.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/WhatsApp%20Image%202025-12-01%20at%2008_45_23.jpeg"><figcaption>Class Art Therapy</figcaption></figure><p>Kegiatan pelatihan dilakukan secara kelas besar dan kelas kecil, kelas kecil terdapat 2 yaitu kelas Art Therapy dengan Coach Datin Dr. Siti Taniza, dan kelas kedua yaitu tentang Trauma Informed dengan Coach M. Saffuan bin Abdullah, KB., PA dan Coach Hishamuddin Salleh.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/WhatsApp%20Image%202025-12-01%20at%2008_45_22.jpeg"><figcaption>Class Trauma Informed&nbsp;</figcaption></figure><p>&nbsp;</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>PKM Internasional: Prodi BKI Bekali Santri dengan Keterampilan Resiliensi dan Penjagaan Mental</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/pkm-internasional-prodi-bki-bekali-santri-dengan-keterampilan-resiliensi-dan-penjagaan-mental</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/pkm-internasional-prodi-bki-bekali-santri-dengan-keterampilan-resiliensi-dan-penjagaan-mental</guid>
				<pubDate>Wed, 26 Nov 2025 03:44:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>Bangka, 26 November 2025</strong> — Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung, baru-baru ini sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertaraf Internasional. Kegiatan ini mengambil bentuk Workshop Kemahiran Resiliensi &amp; Penjagaan Mental Diri yang secara khusus ditujukan untuk para santri di Pondok Pesantren Al Islam Kemuja, Kabupaten Bangka.</p><p>Kolaborasi Internasional untuk Kesehatan Mental Santri &nbsp;bersama prodi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1764214890156(1).png"></figure><p>Workshop ini menjadi istimewa karena melibatkan kolaborasi dengan mitra dari PEKA Malaysia. Keterlibatan internasional ini menunjukkan komitmen Prodi BKI dalam menghadirkan standar dan perspektif global dalam isu-isu krusial seperti kesehatan mental dan ketahanan diri.</p><p>Kegiatan yang berlangsung dari pukul 10.30 hingga 15.00 WIB ini dihadiri Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. (Dekan FDKI IAIN SAS Bangka Belitung), Prof. Dr. H. Zayadi, M.Ag. (Ketua Dewan Pembina YAPPI Bangka), Drs. KH. Amzahri (Pimpinan Pon Pes Al-Islam Kemuja) dan Pemateri Kunci dari Pakar BKI dan PEKA Malaysia.</p><p>Tim Narasumber yang terlibat merupakan gabungan ahli dari Prodi BKPI dan PEKA Malaysia, memastikan materi yang disampaikan kaya akan perspektif akademis dan praktis: Dr. Nikmarijal, M.Pd. (Ka. Prodi BKPI), Datin Dr. Siti Taniza (Ketua PEKA Malaysia), M. Saffuan bin Abdullah, KB, PA (PEKA Malaysia), Hishammuddin Salleh (PEKA Malaysia)</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1764216315602(1).png"></figure><p>Materi fokus pada pemberian keterampilan praktis kepada santri agar mampu menghadapi tekanan akademik dan sosial dengan lebih tangguh (resiliensi), serta memahami pentingnya penjagaan kesehatan mental sebagai bagian integral dari pendidikan Islam. Para santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan mental yang memadai untuk menjadi pribadi yang produktif dan sehat secara psikologis.</p><p>Setelah penyampaian materi dilanjutkan dengan kegiatan konseling kelompok bersama para santri dan mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan PKM Internasional. Konseling kelompok dipimpin oleh PEKA Malaysia, dosen prodi BKI.</p><p>Kegiatan PKM Internasional ini menandai langkah maju Prodi BKI FDKI IAIN SAS Bangka Belitung dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus menegaskan peran strategis program studi ini dalam isu bimbingan dan konseling yang berorientasi pada pengembangan karakter dan kesejahteraan mental.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>MAHASISWA PRODI BKI IAIN SAS BABEL, YOGI CRISTIAN (KADER DA'I MUDA NASIONAL KEMENAG RI) MENGISI KAJIAN AHAD PAGI DI MASJID MUHAJIRIN PANGKALPINANG</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/mahasiswa-prodi-bki-iain-sas-babel-yogi-cristian-kader-dai-muda-nasional-kemenag-ri-mengisi-kajian-ahad-pagi-di-masjid-muhajirin-pangkalpinang</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/mahasiswa-prodi-bki-iain-sas-babel-yogi-cristian-kader-dai-muda-nasional-kemenag-ri-mengisi-kajian-ahad-pagi-di-masjid-muhajirin-pangkalpinang</guid>
				<pubDate>Sun, 28 Sep 2025 06:08:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p>Pangkalpinang - Yogi Cristian mahasiswa akhir prodi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN SAS Bangka Belitung menjadi narasumber dalam kajian Ahad pagi di Masjid Muhajirin Pangkalpinang (28/09/2025). Kajian rutin ini diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Bangka Belitung yang diikuti oleh Ibu-ibu Pimpinan Wilayah Aisyiyah, mahasiswa/i Unmuh Babel, anak-anak panti asuhan putri Aisyiyah dan masyarakat sekitar masjid. Yogi yang juga sebagai kader Dai Muda Nasional Kemenag RI ini menyampaikan tema "Sedekah Sebelum Terlambat; Tadabbur QS. Al Munafiqun: 10", dalam kajiannya Yogi menyampaikan bahwa:</p><p>Seiring dengan dinamika perkembangan zaman modern yang semakin kompleks, tak terkecuali juga ikut &nbsp;mempengaruhi kehidupan sosial-religius seseorang. Terkadang di zaman sekarang ini seringkali kita temui kebiasaan orang orang yang menunda melakukan perbuatan kebaikan. Padahal Allah SWT. Telah menjelaskan banyak ayat dalam Al-Qur'an terkait penyesalan manusia yang sering menunda-nunda melakukan suatu kebaikan hingga datangnya kematian. Kematian sendiri tak mengenal waktu dan tak mengenal tempat datangnya, sebagaimana firman Allah SWT. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Al-Ankabut : 57).</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/1000194383.jpg"><figcaption>Yogi Cristian (mahasiswa prodi BKI IAIN SAS Babel) bersama jama'ah kajian ahad pagi Masjid Muhajirin Pangkalpinang (28/09/2025).</figcaption></figure><p>Hal ini sudah Allah SWT. abadikan di dalam Al-Qur'an Surah Al-Munafiqun ayat 10 yang artinya "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh." &nbsp;Ayat ini memberikan gambaran yang begitu menyayat hati dimana seseorang yang telah meninggal meminta untuk dibangkitkan kembali, bukan untuk melaksanakan sholat, puasa atau umroh, tetapi untuk bersedekah. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya keutamaan bersedekah.</p><p>Salah satu manfaat sedekah adalah terhindarnya pelaku dari siksa api neraka, sebagimana dikatakan dalam sebuah hadits " Takutlah kalian kepada neraka, meski hanya dengan (sedekah) setengah biji kurma. " (HR. Muslim no. 1689). Berangkat dari QS. Al-Munafiqun ayat 10 disinilah pentingnya kita men-tadabburi ayat tersebut. Tadabbur sendiri adalah perbuatan dimana seseorang memikirkan, merenungi, dan mengambil hikmah dari suatu perkara. Tidak hanya sebatas itu saja, konteks tadabbur sendiri merujuk bagaimana kita memahami dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama sebagai petunjuk hidup. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh orang beriman bukanlah kematian, tetapi mati tanpa sempat berbuat amal kebaikan yaitu mati tanpa amal dan mati dengan sebuah penyesalan.</p><p>Sedekah bukanlah dilihat dari berapa besaran nominalnya, bukan dilihat dari apa yang diberikan tetapi bagaimana kita bisa bermanfaat untuk orang lain dan ikhlas dalam melakukan hal tersebut. Rasulallah SAW bersabda bahwa “Sedekah adalah Bukti”. Artinya jika sesorang menyatakan iman maka bukti dari keimanan itu adalah melakukan sedekah. Al Imam Nawawi rahimallah menyamakan sedekah sebagai " Shidqu Imanihi " (sebagai bukti kebenaran imannya). Dengan melakukan sedekah maka kita telah menyelamatkan diri dari suatu penyesalan yang tak bertepi, walaupun hanya bersedekah dengan segelas air putih. Jika kita tak mampu bersedekah dengan materi maka bersedekah dengan perbuatan yang baik atau sederhana saja dengan menebar senyuman kepada sesama manusia. Jika tak mampu berbuat kebaikan janganlah kita melakukan perbuatan buruk yang merugikan orang lain. " Khoirunnas Anfaahum Linnas " (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat kepada orang lain.</p><p>Akhirnya marilah kita bersama-sama menjadi orang yang peka terhadap keadilan dan kepedulian sosial dengan cara memperbanyak sedekah sebagai ladang amal kita, sebagai bekal kita di akhirat nantinya, Karena sedekah merupakan amalan jariyah, amalan yang akan terus mengalir pahalanya walaupun orang tersebut telah meninggal dunia, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga perkara; salah satunya, shodaqoh jariyah." (HR. Muslim no. 1631). Janganlah kita menjadi tokoh yang diabadikan dalam QS. Al-Munafiqun ayat 10, yaitu orang orang yang malas bersedekah, tutup Yogi Cristian.</p><p>Sekretaris prodi BKI IAIN SAS Bangka Belitung, Muhammad Sholeh Marsudi yang juga ikut mendampingi kegiatan ini sangat mengapresiasi kajian yang berjalan dengan baik penuh inspirasi serta menarik dengan banyaknya jama'ah yang bertanya baik dari Ibu-ibu maupun mahasiswa Unmuh Babel.&nbsp;</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>KAPRODI BKI IAIN SAS BABEL BERPARTISIPASI DALAM MUKERNAS PABKI DI UIN SUNAN AMPEL SURABAYA</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/kaprodi-bki-iain-sas-babel-berpartisipasi-dalam-mukernas-pabki-di-uin-sunan-ampel-suabaya</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/kaprodi-bki-iain-sas-babel-berpartisipasi-dalam-mukernas-pabki-di-uin-sunan-ampel-suabaya</guid>
				<pubDate>Tue, 23 Sep 2025 03:10:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p style="text-align:justify;">Kaprodi BKI IAIN SAS Bangka Belitung ikut aktif berpartisipasi dalam Musyawarah Kerja Nasional PABKI (Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam) di UIN Sunan Ampel Surabaya, Mukernas dilaksanaan pada tanggal 17 sampai dengan 19 September 2025. Agenda Mukernas sebelumnya diisi dengan International Conference on Islamic Counseling Studies, ICONICS - Paper Presentation dilanjutkan dengan Mukernas PABKI - Sesi 1 meliputi Profil Lulusan PABKI berbasis OBE dan Capaian Pembelajaran Lulusan PABKI di hari pertama. Agenda hari selanjutnya adalah Analisis Kebijakan Kurikulum Kemenag dan Mukenas - Sesi 2 serta ditutup dengan Launching Kurikulum PABKI Bebasis OBE.</p><figure class="image"><img src="/assets/images/editor/images/IMG-20250923-WA0041.jpg"></figure><p style="text-align:justify;">Setelah semalaman bermusyawarah (kamis, 18 September dan Jum’at pagi, 19 September 2025), tepat jam 10.00 wib. terlaksana dialog dengan Direktur DIKTIS Kemenag RI., Prof.Dr. Phil.Sahiron, M.A., didampingi oleh Rektor UIN Sunan Ampel, Prof.Akh.Muzakki,Grad.Dlp.SEA.M.Phil.Phd., Dekan FDK dan beberapa pimpinan.</p><p style="text-align:justify;">Musyawarah diawali dengan beberapa pertanyaan dari para pengelola BKI, utusan PTKIN dan PTAI, dilanjutkan dengan tanggapan sekaligus pencerahan. Menurut Sahiron, tidak ada yang tidak bisa diatasi terkait semangat untuk memperkuat kelembagaan BKI. Bila hampir semua di beberapa perguruan tinggi memiliki BKI, silahkan yang BPI menyesuaikan. Apapun masalahnya silahkan ajukan naskah akademik ke DIKTIS. Insya Allah akan kami tela’ah. Berbuatlah untuk memudahkan orang lain, baru lihat aturan. Jangan ada di benak kita, mempersulit orang lain, tambahnya.</p><p style="text-align:justify;">Nurviyanti Cholid, M.Pd.I sebagai Ketua Prodi BKI IAIN SAS Babel yang didampingi Dekan FDKI Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. sangat mengapresiasi sikap positif Direktur tersebut. Hal tersebut sesuai dengan tagline “CINTA” dari Menteri Agama RI. diharapkan tersentuh bagi siapapun yang dilayani dalam mengabdi kepada negara.</p><p style="text-align:justify;">Alhamdulillah MUKERNAS selama tiga hari berjalan lancar; narasumber, pendamping dan peserta–kesemuanya tetap semangat dan saling bertukar pikiran. Tiada lain bermusyawarah untuk masa depan Program Studi BKI dan BPI. LAgi-lagi dukungan dan dan dampingan Dr.Choiirul Arif , Dekan FDK UIN Sunan Ampel Surabaya sangat mengesankan.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>Dosen dan Mahasiswa Prodi BKI IAIN SAS Babel Mengikuti Sosialisasi Anti Korupsi dan Gratifikasi dengan Narasumber Mantan Pimpinan KPK</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/program-studi-bki-iain-sas-babel-mengikuti-sosialisasi-anti-korupsi-dan-gratifikasi-dengan-narasumber-mantan-pimpinan-kpk</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/program-studi-bki-iain-sas-babel-mengikuti-sosialisasi-anti-korupsi-dan-gratifikasi-dengan-narasumber-mantan-pimpinan-kpk</guid>
				<pubDate>Mon, 28 Oct 2024 03:49:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>PRODI BKI --&nbsp;</strong>Satuan Pengawas Internal (SPI) Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (IAIN SAS Babel) mengadakan sosialisasi <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/anti-korupsi">anti&nbsp;korupsi</a> dan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> di lingkungan kampus, Senin (28/10/2024).</p><p style="text-align:justify;">Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Terpadu ini menghadirkan Dr. Mochammad Jasin, MM., MH., PIA., Ph.D., mantan Pimpinan KPK (2007-2011) dan Inspektur Jenderal Kemenag (2012-2017), sebagai narasumber utama. Tema yang diangkat adalah "Integritas Tanpa Kompromi: Lawan Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan Gratifikasi."</p><p style="text-align:justify;">Dalam sambutannya, Rektor <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/iain-sas-babel">IAIN&nbsp;SAS&nbsp;Babel</a>, Dr. Irawan, M.S.I., menyampaikan, kegiatan sosialisasi ini sangat penting untuk&nbsp; dilakukan.</p><p style="text-align:justify;">“Kita selaku ASN yang bekerja di lembaga pendidikan senantiasa berhubungan dengan penggunaan keuangan negara dan kebijakan-kebijakan yang sudah diatur secara undang-undang terus berupaya agar terhindar dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme,” kata Irawan.&nbsp;</p><p style="text-align:justify;">Irawan juga berharap, setelah selesai mengikuti kegiatan ini, para peserta memperoleh wawasan dan edukasi anti KKN, dan selanjutnya diimplikasikan dalam bekerja sehari-hari.</p><p style="text-align:justify;">Adapun Dr. H. Mochammad Jasin menjelaskan, masih dibutuhkan adanya pendekatan yang dilakukan secara mandiri terkait pencegahan KKN serta perlunya inovasi untuk menumbuhkan budaya kerja yang tidak koruptif di kalangan pegawai.&nbsp;</p><p style="text-align:justify;">“Gratifikasi merupakan pemberian dalam arti luas. Undang-undang memberikan kewajiban bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara untuk melaporkannya kepada KPK setiap penerimaan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> yang berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan tugas atau kewajiban penerima,” ujar Jasin.</p><p style="text-align:justify;">Lebih jauh Mochammad Jasin mencontohkan, jika pejabat publik menerima hadiah (gratifikasi), maka harus segera laporkan kepada Inspektorat secara internal yang kemudian akan diteruskan kepada KPK melalui Unit Pengendalian Gratifikasi. Waktu pelaporan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> maksimal 30 (tiga puluh) hari setelah menerima <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> tersebut.</p><p style="text-align:justify;">Berdasarkan ketentuan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka pengertian <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma- cuma, dan fasilitas lainnya.&nbsp;</p><p style="text-align:justify;">“Definisi di atas menunjukkan bahwa <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> sebenarnya bermakna sebagai pemberian yang bersifat netral. Gratifikasi, walaupun bersifat netral, termasuk dalam 7 (tujuh) kelompok korupsi dalam Undang-Undang tersebut,” jelas Mochammad Jasin.</p><p style="text-align:justify;">Beberapa contoh <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> yang dilarang, yaitu terkait dengan pelayanan pada masyarakat masyarakat di luar penerimaan yang sah; sebagai akibat dari perjanjian kerjasama/kontrak/kesepakatan dengan pihak lain; sebagai ungkapan terima kasih sebelum, selama, atau setelah proses pengadaan barang dan jasa; dan lainnya.</p><p style="text-align:justify;">“Oleh karena itu terkait strategi yang dilakukan oleh KPK dalam rangka pencegahan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a> meliputi: pertama, strategi edukasi atau pendidikan dengan melakukan sosialisasi kepada seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah, BUMN maupun swasta terkait pencegahan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/gratifikasi">gratifikasi</a>. Kedua , strategi perbaikan sistem yang dilakukan untuk menutup celah-celah adanya korupsi.</p><p style="text-align:justify;">Dan terakhir ialah strategi penindakan, yang merupakan strategi terakhir jika seseorang telah melakukan tindak pidana KKN dan menimbulkan kerugian negara,” tegas Mochammad Jasin.</p><p style="text-align:justify;">Kegiatan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/sosialisasi">Sosialisasi</a> Anti Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan Gratifikasi ini diikuti oleh seluruh jajaran, fakultas, Wakil Rektor, Ketua Lembaga, Kepala SPI, &nbsp;Dekan, Mahasiswa, dan unit di lingkungan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/iain-sas-babel">IAIN&nbsp;SAS&nbsp;Babel</a>.</p><p style="text-align:justify;">Turut hadir juga dalam kegiatan <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/sosialisasi">Sosialisasi</a> ini peserta eksternal dari SPI Universitas Bangka Belitung, Institut Citra Internasional (ICI) Bangka Belitung, Unmuh Babel, Ibek, Kemenag Babel, Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung, Institute Sains dan Bisnis Atma Luhur Pangkalpinang, Universitas Pertiba &nbsp;serta seluruh tim SPI <a href="https://bangka.tribunnews.com/tag/iain-sas-babel">IAIN&nbsp;SAS&nbsp;Babel</a>.</p><p style="text-align:justify;">Sumber: <a href="https://bangka.tribunnews.com/2024/10/29/iain-sas-babel-gelar-sosialisasi-anti-korupsi-dan-gratifikasi-dengan-narasumber-mantan-pimpinan-kpk">https://bangka.tribunnews.com/2024/10/29/iain-sas-babel-gelar-sosialisasi-anti-korupsi-dan-gratifikasi-dengan-narasumber-mantan-pimpinan-kpk</a>.</p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>KEGIATAN PRAKTIKUM KONSELING INDIVIDUAL DI LABORATORIUM BKI: Mengasah Keterampilan Konseling yang Humanis dan Religi.</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/kegiatan-praktikum-konseling-individual-di-laboratorium-bki-mengasah-keterampilan-konseling-yang-humanis-dan-religi</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/kegiatan-praktikum-konseling-individual-di-laboratorium-bki-mengasah-keterampilan-konseling-yang-humanis-dan-religi</guid>
				<pubDate>Mon, 07 Oct 2024 07:47:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><span style="background-color:transparent;color:#000000;"><strong>Prodi BKI</strong> - Kegiatan praktikum konseling individual ini dilaksanakan (07/10/2024) di Laboratorium Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) sebagai bagian integral dari mata kuliah Konseling Individual dan Mikro Konseling. Suasana laboratorium yang didesain menyerupai ruang konseling profesional memberikan atmosfer yang mendukung bagi mahasiswa untuk mengasah ketajaman rasa dan logika dalam membantu sesama. Praktikum ini bertujuan untuk menjembatani teori-teori akademik dengan realitas praktik lapangan, memastikan setiap mahasiswa memiliki kesiapan mental dan keterampilan teknis sebelum terjun langsung ke masyarakat.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Fokus utama dalam simulasi ini adalah penguasaan teknik dasar konseling yang berbasis pada nilai-nilai Islami dan prinsip humanistik. Mahasiswa dilatih untuk memandang klien sebagai sosok yang memiliki martabat mulia (<i>karamah</i>) sekaligus potensi untuk berkembang menuju arah yang lebih baik. Dengan memadukan empati yang mendalam khas pendekatan humanis dan nilai-nilai ketauhidan, praktikum ini berupaya mencetak calon konselor yang tidak hanya terampil secara klinis, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dalam memahami problematika manusia.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Dalam sesi yang tertangkap pada gambar, mahasiswa mempraktikkan keterampilan <i>attending</i> atau kehadiran penuh, baik secara fisik maupun psikologis. Posisi tubuh yang condong ke arah klien, kontak mata yang terjaga, serta gestur tangan yang terbuka menunjukkan kesiapan konselor untuk menerima klien apa adanya tanpa syarat (<i>unconditional positive regard</i>). Hal ini selaras dengan konsep <i>shiddiq</i> dan <i>amanah</i> dalam menjalankan tugas profesional, di mana konselor menjadi pribadi yang dapat dipercaya dan memberikan rasa aman bagi klien.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Proses komunikasi dalam praktikum ini sangat menekankan pada teknik mendengarkan aktif dan pantulan perasaan (<i>reflection of feeling</i>). Konselor dilatih untuk menangkap pesan-pesan tersirat di balik setiap kata yang diucapkan klien, serta memvalidasi emosi tersebut sebagai langkah awal penyembuhan. Pendekatan ini mencerminkan sikap <i>rahmah</i> (kasih sayang), di mana klien tidak dihakimi atas kesalahannya, melainkan didampingi untuk menemukan hikmah di balik setiap ujian yang sedang dihadapi.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Sesuai dengan pedoman para ahli yang tergabung dalam asosiasi perkumpulan ahli bimbingan dan konseling Islam, integrasi spiritualitas dilakukan secara halus dan tidak menggurui. Konselor belajar bagaimana menyisipkan nilai-nilai kesabaran, syukur, dan tawakal sebagai strategi koping yang tangguh bagi klien. Praktikum ini membuktikan bahwa pendekatan bimbingan konseling Islam mampu masuk ke ranah psikologis yang paling dalam melalui sentuhan iman yang menenangkan batin tanpa mengesampingkan kaidah psikologi modern.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Penggunaan media dan penataan ruang di laboratorium BKI, seperti meja kecil dengan bunga serta latar belakang yang tenang, menjadi bagian dari pembelajaran manajemen lingkungan konseling. Mahasiswa diajarkan bahwa kenyamanan fisik ruangan berkontribusi besar pada keterbukaan diri (<i>self-disclosure</i>) klien. Hal ini merupakan aplikasi dari prinsip estetika dan kebersihan yang merupakan bagian dari iman, di mana ruang konseling harus menjadi "oase" bagi mereka yang sedang mengalami kekeringan jiwa.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Melalui mata kuliah Mikro Konseling ini, setiap tahapan konseling mulai dari <i>opening</i>, eksplorasi masalah, hingga <i>terminasi</i> dievaluasi secara mendalam. Mahasiswa belajar untuk melakukan teknik <i>probing</i> atau penggalian masalah secara elegan agar klien tidak merasa sedang diinterogasi. Keterampilan bertanya yang efektif menjadi kunci untuk membuka tabir problematika yang dialami klien, sehingga akar permasalahan dapat diidentifikasi secara akurat dan objektif.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Aspek humanis dalam praktikum ini terlihat jelas dari upaya konselor untuk memberdayakan klien agar mampu mengambil keputusan secara mandiri (<i>self-determination</i>). Konselor tidak memberikan solusi instan, melainkan menjadi fasilitator yang menemani klien dalam proses <i>muhasabah</i> atau refleksi diri. Tujuannya adalah agar klien mencapai derajat <i>nafs al-mutmainnah</i>—jiwa yang tenang—yang mampu menghadapi tantangan hidup dengan penuh kesadaran dan kematangan emosional.</span></p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:transparent;color:#000000;">Sebagai penutup sesi praktikum, mahasiswa melakukan refleksi atas peran yang dijalankannya, memahami kelemahan, serta merayakan kemajuan keterampilan yang telah dicapai. Kegiatan di laboratorium BKI ini bukan sekadar simulasi akademik, melainkan kawah candradimuka bagi calon konselor Islam untuk menanamkan benih kebaikan. Dengan kompetensi yang terstandar oleh asosiasi profesi, diharapkan lulusan mampu menjadi agen perubahan yang membawa risalah kemanusiaan yang selaras dengan nilai-nilai luhur keislaman.</span></p>					]]>
				</description>
			</item>

		
			<item>
				<title>IAIN SAS Bangka Belitung Menempati Peringkat ke-2 Perguruan Tinggi Terbaik di Provinsi Bangka Belitung</title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/iain-sas-bangka-belitung-menempati-peringkat-ke-2-perguruan-tinggi-terbaik-di-provinsi-bangka-belitung</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/iain-sas-bangka-belitung-menempati-peringkat-ke-2-perguruan-tinggi-terbaik-di-provinsi-bangka-belitung</guid>
				<pubDate>Wed, 07 Feb 2024 08:06:00 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
						<p><strong>BANGKA, &nbsp;</strong><a href="https://tipd.iainsasbabel.ac.id"><strong>TIPD.IAINSASBABEL.AC.ID</strong></a><strong> -</strong> Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (IAIN SAS Babel) menduduki peringkat kedua terbaik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Versi Webometrics Ranking of World Universities edisi Januari 2024&nbsp;<span style="color:black;"> berdasarkan situs pemeringkatan&nbsp;</span><a href="https://www.webometrics.info/en/search/Rankings/islam%20negeri"><span style="color:rgb(0,189,156);"><i>Webometrics</i></span></a>. Senin,13/02/2024.</p><p style="text-align:justify;">Pencapaian peringkat ini didasarkan atas keberhasilan IAIN SAS Babel&nbsp; dalam memenuhi penilaian Webometrics menggunakan tiga indikator dalam penilaiannya, yakni visibility (50 persen), transparency or openness (10 persen) dan excellence or scholar (40 persen).</p><p style="text-align:justify;">Aspek visibility diperoleh dari dampak konten publikasi di website. Lalu, transparency or openness mengacu pada keterbukaan publikasi ilmiah berdasarkan sitasi tertinggi dari peneliti universitas. Sedangkan excellence or scholar berdasarkan sitasi tertinggi hasil riset.</p><p style="text-align:justify;">Diketahui, Webometrics merupakan suatu perangkat sistem yang berinisiatif untuk mempromosikan dan membuka akses publikasi ilmiah, guna meningkatkan kehadiran akademik dan lembaga-lembaga penelitian di situs web.</p><p style="text-align:justify;">Penentuan peringkat didasarkan pada kinerja website atau situs perguruan tinggi terkait pada tiga bidang, yaitu visibility, openness dan excellence.</p><p style="text-align:justify;">Atas capaian yang membanggakan ini, Rektor IAIN SAS Babel Dr. Irawan, M.S.I , menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang solid dan komitmen seluruh civitas akademik dan Tim Pengelola website dalam menyajikan informasi dan tidak lupa beliau juga menyampaikan agar Tim selalu semangat dalam mengelola website yang ada.</p><p style="text-align:justify;">Meskipun prestasi yang gemilang telah diraih, Irawan&nbsp; juga terus mendorong dan memberi semangat kepada seluruh civitas akademik agar terus berupaya menjadi yang terbaik dan memberi dedikasi yang tinggi kepada masyarakat.</p><p style="text-align:justify;">mengingatkan agar tidak cepat Puas dengan pencapaian yang ada. Beliau juga berpesan agar seluruh Tim tetap solid dan terus meningkatkan kualitas berita yang disajikan melalui website, sehingga berita yang ada dapat dijadikan sebagai bahan dan dokumen yang mampu meningkatkan Akreditasi Program Studi dan Institusi.</p><p style="text-align:justify;">“Kualitas sejati dari suatu kampus bukanlah seberapa tinggi dia berada dalam peringkat, tetapi betapa besar peranannya dalam mengubah kehidupan para mahasiswanya dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas. Oleh sebab itu mari bersama-sama menjadi yang terbaik,” jelasnya.</p><p style="text-align:justify;">Berikut ini daftar 13 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Terbaik di Provinsi Babel Januari 2024</p><p style="text-align:justify;">1. Institut Sains dan Bisnis Atma Luhur</p><p style="text-align:justify;">2. IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung&nbsp;</p><p style="text-align:justify;">3. Universitas Bangka Belitung&nbsp;</p><p style="text-align:justify;">4. Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung</p><p style="text-align:justify;">5. Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung UMBB</p><p style="text-align:justify;">6. Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang</p><p style="text-align:justify;">7. Institut / Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik STISIPOL Pahlawan 12 Sungailiat</p><p style="text-align:justify;">8. Politeknik Darma Ganesha Tanjungpandan Kabupaten Belitung</p><p style="text-align:justify;">9. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STIE IBEK</p><p style="text-align:justify;">10. Unaba / Sekolah Tinggi Abdi Nusa Pangkalpinang</p><p style="text-align:justify;">11. Akademi Manajemen Belitung AMB</p><p style="text-align:justify;">12. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan STIKES Citra Delima Bangka Belitung</p><p style="text-align:justify;">13. Universitas Pertiba Pangkalpinang Bangka</p><p style="text-align:justify;">&nbsp;</p><p style="text-align:justify;"><span style="background-color:rgb(255,255,255);color:rgb(58,58,58);">Penulis : Ayaknan</span></p><p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>					]]>
				</description>
			</item>

		

		
			<item>
				<title></title>
				<link>https://bki.iainsasbabel.ac.id/agenda/sosialisasi-pendaftaran-siswa-span-ptkin-2024-untuk-tik-ptkin</link>
				<guid>https://bki.iainsasbabel.ac.id/agenda/sosialisasi-pendaftaran-siswa-span-ptkin-2024-untuk-tik-ptkin</guid>
				<pubDate>Fri, 16 Feb 2024 05:58:29 +0000</pubDate>
				<description>
					<![CDATA[
											]]>
				</description>
			</item>

		
	</channel>
</rss>