MAHASISWA PRODI BKI IAIN SAS BABEL, YOGI CRISTIAN (KADER DA'I MUDA NASIONAL KEMENAG RI) MENGISI KAJIAN AHAD PAGI DI MASJID MUHAJIRIN PANGKALPINANG

avatar Administrator
Administrator

111 x dilihat
MAHASISWA PRODI BKI IAIN SAS BABEL, YOGI CRISTIAN (KADER DA'I MUDA NASIONAL KEMENAG RI) MENGISI KAJIAN AHAD PAGI DI MASJID MUHAJIRIN PANGKALPINANG

Pangkalpinang - Yogi Cristian mahasiswa akhir prodi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN SAS Bangka Belitung menjadi narasumber dalam kajian Ahad pagi di Masjid Muhajirin Pangkalpinang (28/09/2025). Kajian rutin ini diselenggarakan oleh Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Bangka Belitung yang diikuti oleh Ibu-ibu Pimpinan Wilayah Aisyiyah, mahasiswa/i Unmuh Babel, anak-anak panti asuhan putri Aisyiyah dan masyarakat sekitar masjid. Yogi yang juga sebagai kader Dai Muda Nasional Kemenag RI ini menyampaikan tema "Sedekah Sebelum Terlambat; Tadabbur QS. Al Munafiqun: 10", dalam kajiannya Yogi menyampaikan bahwa:

Seiring dengan dinamika perkembangan zaman modern yang semakin kompleks, tak terkecuali juga ikut  mempengaruhi kehidupan sosial-religius seseorang. Terkadang di zaman sekarang ini seringkali kita temui kebiasaan orang orang yang menunda melakukan perbuatan kebaikan. Padahal Allah SWT. Telah menjelaskan banyak ayat dalam Al-Qur'an terkait penyesalan manusia yang sering menunda-nunda melakukan suatu kebaikan hingga datangnya kematian. Kematian sendiri tak mengenal waktu dan tak mengenal tempat datangnya, sebagaimana firman Allah SWT. "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Al-Ankabut : 57).

Yogi Cristian (mahasiswa prodi BKI IAIN SAS Babel) bersama jama'ah kajian ahad pagi Masjid Muhajirin Pangkalpinang (28/09/2025).

Hal ini sudah Allah SWT. abadikan di dalam Al-Qur'an Surah Al-Munafiqun ayat 10 yang artinya "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh."  Ayat ini memberikan gambaran yang begitu menyayat hati dimana seseorang yang telah meninggal meminta untuk dibangkitkan kembali, bukan untuk melaksanakan sholat, puasa atau umroh, tetapi untuk bersedekah. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya keutamaan bersedekah.

Salah satu manfaat sedekah adalah terhindarnya pelaku dari siksa api neraka, sebagimana dikatakan dalam sebuah hadits " Takutlah kalian kepada neraka, meski hanya dengan (sedekah) setengah biji kurma. " (HR. Muslim no. 1689). Berangkat dari QS. Al-Munafiqun ayat 10 disinilah pentingnya kita men-tadabburi ayat tersebut. Tadabbur sendiri adalah perbuatan dimana seseorang memikirkan, merenungi, dan mengambil hikmah dari suatu perkara. Tidak hanya sebatas itu saja, konteks tadabbur sendiri merujuk bagaimana kita memahami dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama sebagai petunjuk hidup. Sesuatu yang paling ditakutkan oleh orang beriman bukanlah kematian, tetapi mati tanpa sempat berbuat amal kebaikan yaitu mati tanpa amal dan mati dengan sebuah penyesalan.

Sedekah bukanlah dilihat dari berapa besaran nominalnya, bukan dilihat dari apa yang diberikan tetapi bagaimana kita bisa bermanfaat untuk orang lain dan ikhlas dalam melakukan hal tersebut. Rasulallah SAW bersabda bahwa “Sedekah adalah Bukti”. Artinya jika sesorang menyatakan iman maka bukti dari keimanan itu adalah melakukan sedekah. Al Imam Nawawi rahimallah menyamakan sedekah sebagai " Shidqu Imanihi " (sebagai bukti kebenaran imannya). Dengan melakukan sedekah maka kita telah menyelamatkan diri dari suatu penyesalan yang tak bertepi, walaupun hanya bersedekah dengan segelas air putih. Jika kita tak mampu bersedekah dengan materi maka bersedekah dengan perbuatan yang baik atau sederhana saja dengan menebar senyuman kepada sesama manusia. Jika tak mampu berbuat kebaikan janganlah kita melakukan perbuatan buruk yang merugikan orang lain. " Khoirunnas Anfaahum Linnas " (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat kepada orang lain.

Akhirnya marilah kita bersama-sama menjadi orang yang peka terhadap keadilan dan kepedulian sosial dengan cara memperbanyak sedekah sebagai ladang amal kita, sebagai bekal kita di akhirat nantinya, Karena sedekah merupakan amalan jariyah, amalan yang akan terus mengalir pahalanya walaupun orang tersebut telah meninggal dunia, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga perkara; salah satunya, shodaqoh jariyah." (HR. Muslim no. 1631). Janganlah kita menjadi tokoh yang diabadikan dalam QS. Al-Munafiqun ayat 10, yaitu orang orang yang malas bersedekah, tutup Yogi Cristian.

Sekretaris prodi BKI IAIN SAS Bangka Belitung, Muhammad Sholeh Marsudi yang juga ikut mendampingi kegiatan ini sangat mengapresiasi kajian yang berjalan dengan baik penuh inspirasi serta menarik dengan banyaknya jama'ah yang bertanya baik dari Ibu-ibu maupun mahasiswa Unmuh Babel.