Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Program Studi BKI IAIN SAS Babel Gelar Visiting Lecture di IAIN Parepare

avatar Administrator
Administrator

16 x dilihat
Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Program Studi BKI IAIN SAS Babel Gelar Visiting Lecture di IAIN Parepare
Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Program Studi BKI IAIN SAS Babel Gelar Visiting Lecture di IAIN Parepare

PAREPARE – Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (IAIN SAS) Bangka Belitung sukses melaksanakan kegiatan Visiting Lecture di IAIN Parepare, Sulawesi Selatan. Kegiatan akademik lintas pulau ini berfokus pada penguatan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan profesi yang kian dinamis.

Acara yang berlangsung pada Kamis, 21 Mei 2026 ini digelar di Ruang Aula Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Parepare. Sebanyak kurang lebih 60 mahasiswa dari program studi BKI IAIN Parepare hadir dengan antusiasme tinggi untuk menyerap ilmu dari praktisi dan akademisi asal Bangka Belitung tersebut.

Dosen dari IAIN SAS Babel hadir langsung sebagai narasumber utama dengan membawa perspektif keilmuan yang segar.

Pebri Yanasari, M.A. membawakan materi yang sangat kontekstual mengenai "Bimbingan Konseling Multikultural Berbasis Kearifan Lokal Bangka Belitung". Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya bagi calon konselor untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam proses konseling, guna menghadapi masyarakat yang semakin majemuk.

Kegiatan Visiting Lecture ini bukan sekadar forum transfer pengetahuan, melainkan juga menjadi wadah silaturahmi akademik dan penguatan kerja sama kelembagaan antara IAIN SAS Bangka Belitung dan IAIN Parepare.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan para mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan teoritis baru yang melintasi batas geografis, tetapi juga termotivasi untuk menjadi lulusan yang adaptif, profesional, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.

Dalam sesi penyampaiannya, Pebri Yanasari, M.A. mengupas secara mendalam bagaimana kekayaan sosiokultural Bangka Belitung dapat diintegrasikan ke dalam pendekatan konseling modern. Beliau menjelaskan bahwa konsep kerukunan masyarakat kepulauan tersebut, seperti filosofi "Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong" (etnis Tionghoa dan Melayu sama saja), merupakan modal sosial yang luar biasa dalam membangun hubungan terapeutik yang inklusif. Pendekatan naratif ini membuka cakrawala baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya seorang konselor memahami latar belakang kultural konseli agar tidak terjebak dalam bias budaya saat memberikan layanan.

Lebih lanjut, narasi perkuliahan berfokus pada urgensi rekonstruksi teknik bimbingan yang adaptif terhadap nilai-nilai lokal. Mahasiswa diajak untuk melihat bahwa bimbingan dan konseling bukan sekadar teori barat yang kaku, melainkan sebuah seni berkomunikasi yang menghargai adat istiadat, norma, serta kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Dengan memahami karakteristik unik masyarakat kepulauan, calon konselor diharapkan mampu merancang program layanan responsif yang dapat menyentuh aspek psikologis terdalam dari individu yang dibimbing.

Suasana perkuliahan umum ini menjadi kian dinamis saat memasuki sesi diskusi interaktif, di mana terjadi pertukaran perspektif kebudayaan yang kaya antara bumi Serumpun Sebalai (Bangka Belitung) dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Para mahasiswa FUAD IAIN Parepare secara aktif membandingkan karakteristik nilai lokal mereka dengan materi yang dipaparkan. Dialog lintas budaya ini tidak hanya memperkaya khazanah teoritis mahasiswa BKI, tetapi secara praktis memberikan simulasi nyata bagaimana kompetensi multikultural diimplementasikan dalam ruang akademik sebelum nantinya diterapkan secara profesional di masyarakat luas.